Senin, 16 Maret 2015

Sejarah Baju Koko

bagaimana brand baju yang biasanya tanpa kerah, nimbul kecil aksesori berupa bordir, normalnya digunakan oleh kaum muslim bagi pergi kedalam masjid atau event keagamaan? Jawaban kita seluruh tepat rada seragam, yakni Baju Koko. Baju koko cerah disebut juga baju muslim.

Namun, dari namanya, “Koko”, rasanya timbul yang menarik dengan riwayat baju tersebut. Karena, notabene baju muslim yang itu berlainan dengan, sebagai contoh baju orang-orang Arab yang berjubah panjang.

Asal Mula Baju Koko
baju koko

Menurut penganalisis budaya Tionghoa peranakan, David Kwa, baju yang kali ini dikenal dengan baju koko tersebut sebetulnya jatuh temurun dari baju insan China bernama “Tui-Khim”. Di kalangan warga Betawi, baju Tui-Khim dilekatkan maupun dikenal dengan term baju Tikim. Baju Tui-Khim coraknya semacam baju muslim koko, bukaan di tengah dengan lima kancing.


Pada manusia Betawi, paduan baju ini normalnya celana batik. bisa saja di antar elo terus-menerus nimbul yang gambarkan setelan almarhum Benjamin S di sinetron Si Doel darah daging Sekolahan? Nah, kira-kira semacam inilah baju muslim koko yang dipadu dengan celana batik, khas Betawi. Hingga pokok era ke-20, pria Tionghoa di tanah air beta selalu saja mengenakan kostum Tui-Khim maupun celana komprang atau longgar bagi kegiatan sehari-hari.

Lalu, apakah bisa baju tui-khim membuahkan baju muslim koko semacam yang kite-kite kenal kini? Remy Sylado, budayawan, menjelaskan bahwasanya biasanya yang mengenakan baju tui-khim di masa itu ialah engkoh-engkoh. Dieja dalam ucapan indonesia jadinya Koko. Jadilah “Baju Koko”.

Baju Koko serta Baju Takwa
Di beberapa area dan juga kalangan masyarakat, timbul yang menyebut baju muslim koko ini sejenis baju takwa. Padahal, sebetulnya kedua komposisi baju ini berbeda. Baju takwa gak diadopsi dari baju thui-kim, melainkan akibat modifikasi dari baju konservatif Jawa, diantaranya Surjan. Surjan adalah salah esa baju budi Jawa yang dilekatkan pria sehari-hari.

gaun aksesoris ini juga bisa dikenakan bagi menghadiri upacara-upacara resmi akhlak Jawa dengan dilengkapi blangkon serta bebetan. Biasanya, motifnya sesosok garis-garis tegak berwarna cokelat muda serta cokelat usang. telah diawali terbayang, kan? Baju Surjan versi aslinya itu selamanya berjuta-juta ditemui di Pasa Bringharjo, Yogyakarta, atau Pasar Klewer, Solo, atau di pasar suvenir di daerah darmawisata berbeda di Jawa Tengah serta Jawa Timur.

Sunan Kalijaga yang baru kali memodifikasi surjan membuat “baju takwa”. Dari sembilan wali, hanya orang ini yang pakaiannya berlainan. Sunan Kalijaga gak mendayagunakan jubah ataupun sorban. akan tetapi, merencanakan bajunya seorang diri yang dibilang “Baju Takwa”, dari baju Surjan. Baju surjan kebanyakan berlengan pendek, sedang oleh Sunan Kalijaga baju tersebut dijadikan tangan panjang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar